Jumat, 10 Juli 2020

Fenoma Majunya Era Digital Sekarang

Jumat, 10 Juli 2020


Mendadak Jadi Ustadz
Fenomena di era 4.0 yang dikenal dengan sebutan era digital ini, memang seseorang untuk belajar tentang agama tidaklah sulit seperti zaman dahulu. Zaman dahulu sebelum datangnya era digital ini memang gelar ust-ust ataupun kiyai  tidak lah sebanyak seperti sekarang ini namun un

tuk itu kita perlu memilah mana yang benar-benar ust atau ust yang hanya belajar ilmu agama dari YouTube.....????? Oleh sebab itu, dibawa ini kami jelaskan macam-macam gelar yang sering kita dengar.
Gelar itu bermacam-macam:

1. Gelar masyarakat, seperti ustadz, kyai, ajengan, tuan guru, gus dan sebagainya. Artinya tidak memiliki standar khusus. Pokoknya masyarakat memanggil dengan gelar tertentu maka melekatlah julukan itu.
2. Gelar akademis, seperti strata 1, strata 2 dan seterusnya. Memiliki standar keilmuan tertentu, tidak bisa tiba-tiba menyandang SH kalau tidak lulus Fakultas Hukum sampai diwisuda. Jangan harap menyandang gelar SE kalau tidak lulus Fakultas Ekonomi, kecuali singkatan Sopir Elf.
3. Gelar kehormatan, seperti HC, Honoris Causa.
4. Gelar tikar, gelar sajadah, gelar surban ha-ha-ha.
Karena ustadz tidak ada kriteria baku, maka kita sendiri yang perlu membuat filter agar kita bisa memilih dan memilah kepada siapa kita mempelajari ilmu dalam Islam.
Menurut KH Ahmad Siddiq, Rais Am PBNU (1984-1991), ketika menjelaskan "Ulama adalah pewaris Nabi" (HR Abu Dawud dll), yang diwariskan oleh para ulama dirumuskan dalam 3A;
1. Alim. Guru, kyai, Ustadz harus alim dengan ilmu agama.
2. Abid. Harus ahli ibadah.
3. Arif. Yaitu sikap dan ucapannya sangat bijak. Tidak hanya bijaksana tapi juga bijak(di)sini.
Khusus yang kriteria ketiga ini adalah Akhlaknya. Keilmuan para ustadz sulit kita lihat karena memang ilmu itu tidak kasat mata. Soal ibadahnya kita juga tidak dapat memantau kesehariannya. Maka tolak ukur yang paling mudah melihat para ustadz adalah dari Akhlak. Kalau bukan dengan akhlak maka dengan cara apalagi kita bisa mendeteksi keilmuan dan ibadah seseorang?
Sumber: KH. Ma'ruf khozin (direktur aswaja center JATIM)


Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar